Tag

,

Untuk uda

Hai, uda, sesuai janji, aku tulis surat ini buat uda, walau aku nggak tahu harus menulis apa.

Tapi, setelah aku ingat-ingat jasa uda, aku mau berterima kasih karena uda sudah sudi menjadi tempat aku berbagi pasca bala bencana beberapa minggu lalu menimpaku. Serius, aku jarang kan sok romantis begini ke uda. Karena aku merasa nggak perlu pakai topeng apa pun ke kamu, sekalipun bersikap romantis. Romantis… kalau tadinya kamu pikir itu nama tengahku, kamu salah. Aku bukan si pemuisi yang kamu bilang jago, bukan si sajakers yang kamu bilang lihai.

Btw, kamu kapan pulang? Pulang ke Jakarta. Mentawai segitu nyamannya, yah? Oh iya, kadang-kadang aku kepengin meneleponmu juga, jadi nggak harus kamu yang selalu meneleponku sampai pulsamu habis. Tapi aku suka gengsian, dan takut ganggu waktu kerjamu.

Uda, kamu tahu ‘kan perihal ceritaku tentang pelukan terakhir di bandara Halim itu? Karena uda, aku jadi lebih kuat dan nggak terlalu memikirkan itu. Lumayanlah, aku bisa tertawa lepas setiap kita bertukar suara tiap malam pas kamu lowong. Meski harus membentuk kantung mata, tapi aku nggak merasa rugi karena aku bisa tertawa lagi, dan… setidaknya kantung mata itu bukan berasal dari tangisan lagi.

See? Aku tuh nggak romantis, uda. Lihat aja surat ini, datar sedatar-datarnya. Tapi aku yakin kamu pasti melihat diriku yang sebenarnya di surat ini, yang tanpa topeng apa pun, tanpa diksi dewa yang maknanya harus merogoh kamus terlebih dahulu. Jangan tertawa ya begitu baca surat ini. Jangan bandingkan surat ini dengan sajak-sajak yang pernah aku buat. Bukan berarti sajak-sajakku itu palsu, tapi, untuk berbicara soal kejujuran dan sebuah ucapan terima kasih, akan lebih tulus kalau segalanya yang terangkai menjadi apa adanya tanpa harus memaksa seragam dalam rima. Karena kamu sudah membuatku tertawa, sebaiknya bahagia itu tidak perlu disembunyikan dalam majas-majas yang dapat membuat artinya bias, kan?

Sudah, segini aja, ya. Pokoknya terima kasih dan jangan galau lagi. Kalau kamu masih galau, nanti aku nggak bisa ketawa lagi. Jangan lupa juga, kamu masih punya utang soal mentok-mentokan sama aku. Hahahaha!

Sampai bertemu lagi, Uda. I miss you!

Salam,

Nona berhidung tipis.

Iklan