Tag

, ,

Menara Bidakara 1, Lt. 17, Jakarta Selatan

13.28

Siang, Al.

By the way, surat ini kuketik melalui PC di kantor baruku. Perdana, lho. Aku menulis ini dalam keriuhan obrolan seputar istilah yang belakangan sedang menjadi trend di kalangan anak muda. Pasti kau sering mendengarnya. Ya, “baper”, tahu, ‘kan?

Oh iya, kau tahu? Akhirnya aku merasakan apa yang sering kaukeluhkan. Aku diterima sebagai Staff Administrasi di kantor baru ini. Kalau beberapa minggu lalu aku mengeluh mengenai betapa tidak enaknya pekerjaanku karena aku tidak melakukan pekerjaan apa pun, kali ini berbeda sebab aku justru semakin banyak pekerjaan, sama sepertimu. Bedanya, jam kerjaku tepat waktu, 8 jam per hari dengan gaji yang tentunya melebihimu. Tapi dengan hari kerja yang sama, ya enam hari dalam seminggu.

Aku ingin bercerita sedikit. Jadi saat rapat laporan tadi pagi, salah seorang user di kantorku melaporkan keluhan pelanggan yang menurutnya, beliau memaparkan dengan dramatis bahkan sempat menangis perihal barang pesanannya yang belum juga beliau terima. Sayangnya, hal tersebut kadang menjadi bahan ledekan di kantorku, terlebih saat userku nyeletuk “baper banget, astaga!” setelah memberikan laporan sehingga membuat ruang meeting menjadi penuh dengan bahak.

Aku sedikit bingung, tapi tak mampu menahan tawa juga. Kebetulan atasanku bukan orang Indonesia, sehingga di antara gelak kami, beliau tidak ikut tertawa sebab tidak mengerti arti istilah yang sedang hitz itu dan mengundang salah satu rekan kantorku untuk menjelaskan apa makna dari istilah yang sedang menjadi tema utama kantorku.

Aku jadi berpikir… Al, Tuhan menciptakan kita dengan 5 indera untuk merasa, kan? Seperti yang pernah kutulis untukmu, kelima indera ini yang membuat kita merasakan banyak hal, terutama hal fisik. Belum lagi ditambah hati, yang membuat kita merasakan hal-hal yang tidak nyata, yang tidak terlihat secara fisik, seperti aku padamu. Bukankah akan wajar jika seseorang akan “baper” untuk hal-hal tertentu? Terlebih kalau ternyata orang tersebut lebih memungsikan inderanya tinimbang akalnya, meski kita sudah sepakat bahwa antara akal dan indera harus seimbang, kan.

Kadang aku heran, Al, kita mudah sekali terjebak dalam arus, terlebih untuk sesuatu yang negatif, namun tidak pernah suka jika sesuatu yang negatif itu menimpa kita. Belum lagi jika hal tersebut sebetulnya adalah sesuatu yang wajar dan dapat terjadi pada semua orang (seperti yang kerap kujelaskan mengenai indera dan akal), bahkan bukan suatu keanehan. Tapi aku ingat, Al, tidak semua kita seperti itu. Mungkin hanya aku yang mudah terpengaruh atmosfer, atau beberapa temanku yang lain, yang jelas tidak semua kita. Sebab, kamu tidak seperti itu. Aku ingat sekali bagaimana kamu pernah membuatku terdistraksi dari segala fenomena arus yang sama dengan segala kegaringanmu yang ringan, namun mampu membuatku tertawa sehingga melupakan kegiatan mencemooh atau bergosip seperti itu.

Ya, aku tahu bukan lagi saatnya untuk kembali mengingat hal-hal di masa lalu sebab kita sudah lama mati, kan. Tapi, dari segala pesakitan yang kamu torehkan di dadaku, aku harus berterima kasih untuk beberapa pelajaran ini, yang kamu berikan padaku tanpa harus menggurui, bahkan dengan cara yang tidak kusadari bahwa ini adalah sebuah pelajaran.

Satu lagi, kalau aku baper padamu, mohon dimaklumi, ya. Kan kau sendiri tahu bagaimana kita sebelum dua bulan terakhir ini.  But wait! Perlu kamu ketahui sedikit lagi… bahwa menurut kamusku, baper itu bukan bawa perasaan, tapi… bawaannya laper. Hehehe aku masih si tukang makan yang badannya tak pernah gemuk kecuali pipinya itu lho, Al. Yaa, tidak penting, sih. Tapi semoga kau akan terus mengingatku, meski sebagai perempuan yang makannya banyak sekali. Oh iya, kapan-kapan kalau beku bukan lagi suasana kita, akan kukirimkan padamu pemandangan dari ruanganku ini, yah. Jakarta kalau malam indah sekali, lho.

Semoga kau baik-baik saja dan semakin bahagia, ya.

Yang masih setia jatuh pada Bumi,

Embun

Iklan