Tag

,

“Hallo…”

“Ya, Em, ada apa?”

“Sibuk? Aku mau ngomong.”

“Nggak juga. Kenapa?”

“Aku minta maaf. Well akhirnya aku mengerti. Aku sadar, terlalu egois jika aku merasa bahwa akulah yang paling terluka, ditambah berpikir bahwa kamu bahagia-bahagia saja. Nyatanya, yang sedang kamu lakukan adalah berusaha tidak menambah luka itu, meski harus dengan cara yang membuatku benci kepadamu, meski harus kamu yang berdarah. Mungkin aku terluka, tapi dia pasti lebih terluka. Mungkin aku tak rela, tapi dia pasti lebih sulit melepaskanmu. Terima kasih dan maaf karena aku baru menyadarinya.”

“Em… Apaan, sih?”

oOo

27 Februari 2015

Menara Bidakara 1, lantai 17

Al, barangkali ini surat terakhirku untukmu. Atau nantinya akan ada surat-surat lainnya, aku tidak tahu. Belum kupikirkan, terlebih saat ini aku sedang sibuk-sibuknya di kantor baru.

Selama ini aku berpikir, Al, mengenai kita yang semakin berjarak saja. Aku tidak mengerti alasannya, meski sebetulnya, prasangkaku benar semua tentang masa depan kita yang tidak akan pernah berujung “kita”. Tidak mungkin kamu bertahan dengan dua perempuan sekaligus di kiri dan kananmu. Salah, jika kamu membagi perasaanmu dan mengkhianati seseorang yang menunggumu dengan setia. Jahat, jika kita tetap ada dengan membodohinya.

Meski alam bawah sadarku selalu bepikir bahwa aku yang paling terluka, tapi aku bersyukur masih mampu berpikir logis tentang keadaan kita yang memang tidak mungkin (kecuali jika Tuhan berkehendak lain, yang mana itu adalah doaku, agar kita selalu bersama entah bagaimana caranya).

Mungkin terlalu muluk jika aku berharap kita masih bisa seperti dulu, seperti selayaknya teman, meski kita berawal dari keterasingan. Meski muskil pula, sebab dia sudah mengetahui semuanya, akan sulit bagiku, terlebih bagimu. Aku minta maaf untuk semuanya. Meski aku masih amat membencimu karena dengan mudahnya kamu membuatku terluka, hancur tanpa mengembalikanku seperti semula.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi atau berharap bagaimana lagi untuk kita. Aku hanya berharap, semua ini segera kulupakan, sebab hampir setahun sejak kita pertama kali bertemu, aku sama sekali belum bisa melenyapkanmu. Aku hanya ingin segala tentang kita hilang, jika memang kita tidak bisa bersama. Sebab pada setiap munculmu, luka itu dengan mudahnya terbuka.

Sejak luka itu katoreh kembali, ketahuilah, sebetulnya aku tak pernah baik-baik saja, bahkan lebih hancur dari sebelumnya!

Aku hanya berpura-pura baik-baik saja, agar suasana di antara kita sama baiknya. Sayangnya, aku tidak pernah bisa menahan luka. Maka, menghilanglah saja dari kenyataanku, dari kepalaku, dan dari hatiku. Menghilanglah.

Semoga kita baik-baik saja. Semoga aku segera terbiasa dengan ketiadaan kita.

yang semakin sakit karena selalu jatuh pada Bumi,

Embun

Iklan