Tag

Dear, Al, beberapa hari ini aku sibuk sekali. Mulai dari tugas kantor, revisi skripsi, deadline proyek-proyekku, sampai segala tugas yang aku buat-buat sendiri demi mengenyahkanmu dari kepalaku. Banyak hal yang kujumpai selama aku menyibukkan diri, Al. Positifnya, aku sedikit terdistraksi. Negatifnya, hobi lamaku kuulang kembali, merokok, misalnya.

Aku sedang mengecek e-mail lama atas perintah bosku, Al. Beberapa dokumen hilang karena beberapa hal dan untungnya, aku menyimpannya di kotak surelku. Kubuka kotak masukku itu, Al. Kuarahan kursor terus ke bawah dengan pandangan yang jeli, sampai kursorku berhenti pada pesan yang pernah kamu kirimkan suatu malam saat aku lembur di kantor, yang tak sempat kubuka karena listrik mendadak padam, dan esoknya kulupakan sebab kesibukan-kesibukan yang kubuat-buat itu.

Kulupakan tugas dari bosku itu, Al. Segera kubuka pesanmu.

Palembang, 31 Januari  2015

Untuk Embun, yang membuat Bumiku terbelah.

Mungkin kamu akan sedikit kaget melihat surat ini, Em. Sebab ia datang beralamatkan kekasihmu, kekasihku, kekasih kita. Mungkin jantungmu memompa lebih laju saat membaca surat ini. Tapi kumohon, bacalah sampai akhir, Em. Banyak sekali hal yang akan kusampaikan dalam surat ini. Hal-hal yang tak pernah mampu bibirku katakan langsung kepadamu.

Mungkin akan sedikit menyakiti hatimu. Atau banyak. Mungkin akan melukai perasaanmu, pasti. Mungkin akan membuatmu merasa tidak adil, aku yakin. Tapi kumohon, bacalah, setidaknya sampai sebelum aku mengucapkan salam penutup.

Pertama, Embun, kau boleh jadi yang menyejukkan Bumi, yang diciptakan untuk menjatuhi Bumi, untuk menyejukkannya. Tapi, jangan lupakan aku, aku adalah pohon yang sejak lama ditahannya. Yang akarnya telah menjalar ke seluruh sisinya. Meskipun daun-daunku sudah banyak yang menguning dan jatuh, Em, ketahuilah, aku tak pernah mati, aku bertumbuh pada jatuhku.

Kedua, Embun, Bumi boleh jadi menjadi lebih segar setiap kali kau menjatuhkan tubuhmu padanya. Tapi kau lupa rindangku yang saban hari melindunginya dari matahari, tidak seperti kau yang datang hanya setiap pagi. Dan kau lupa lagi, Em, kau jatuh dari daun-daunku. Kau adalah tangisku.

Ketiga, Embun, sejujurnya aku telah mengetahui sejak lama hubunganmu dengan kekasihku itu. Aku tahu segalanya yang kau lakukan bersamanya. Aku tahu soal video stopmotion yang pernah kaubuatkan untuknya. Aku tahu soal video stopmotion yang dia berikan untukku (di mana video itu ia buat karena terinspirasi dari videomu untuknya). Aku tahu gelak tawanya saat bersamamu. Aku sadari murungnya saat bersamaku. Aku ingat ketika dia salah memanggil namaku. Aku membaca saat dia tergila-gila padamu. Aku pahami segala perubahannya yang fluktuatif padaku, di mana sumbernya adalah dirimu.

Keempat, Embun, kau boleh jadi memiliki semesta keterkaitan dengan kekasihku itu tanpa harus merakit waktu selama 7 tahun lamanya sepertiku. Tapi ketahuilah, sebelum ia menjadi seseorang yang akhirnya kaucintai sebegitunya, ia pernah menjadi seseorang yang bisa saja kaubenci sampai kau tidak ingin mengenalnya lagi. Lalu, saat itu, siapa yang bersamanya, Em? Kamu?

Kelima, mungkin ini akan terasa tak adil bagimu, tapi, cintaku padanya lebih besar daripada yang kaumiliki. Aku tak akan melepaskannya. Sampai kapan pun kau menunggu, aku tak akan pernah membiarkannya menjauh lagi dariku. Lepaskanlah ia, Em, tidak adil bagimu, seberapa dibanding aku? Tidak relanya dirimu, berapa banyak dibanding milikku? Mengertilah, Em, dia masih milikku, bahkan saat kalian memulai hubungan itu. Dia tak pernah melepaskanku, meski dengan apik menyembunyikanku. Pahamilah, hampir separuh hidupku, kuhabiskan bersamanya. Meski tawa, canda, dan segala yang kaubuat untuknya, menghasilkan lebih banyak bahagia di dadanya, kami memiliki bahagia yang lebih dulu kami rajut, 6 tahun sebelum ia menghampirimu.

Kuharap kamu mengerti. Bisakah kau membayangkan jika posisimu adalah diriku? Maka pahamilah, Embun Bening, yang membuat Bumiku sempat terbelah.

Yang pernah rela membagi Bumi,

Arum

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, Al, termasuk dalam kata-kata. Maaf tak kuteruskan surat ini.

Iklan