Kepada Kesepian

Tag

,

Kalimalang, 16 Februari 2014

Sesungguhnya saya tidak tahu harus dialamatkan kepada siapa surat ini. Kepada Alien, yang biasa saya kirimi cerita satu arah, rasanya jenuh sebab hanya masa lalu yang bisa saya ceritakan. Di mana ingatan saya harus ekstra kuat memikirkan jalan apa saja yang telah kami tempuh. Maka mungkin aku akan menulis saja untuk Kesepian.

Dan astaga, akhir-akhir ini ternyata saya lebih banyak bercumbu dengan Kesepian daripada organisme-yang-bernalar. Agaknya Kesepian lebih menarik dari mereka yang katanya memiliki otak, tidak suka justifikasi bodoh untuk setiap tindakan mereka, tidak mengizinkan komentar buruk mampir untuk penampilan mereka, tetapi suka sekali melakukan hal-hal itu terhadap organisme-yang-bernalar lain. Tuhan saja kalah.

Kepada Kesepian, sebelumnya saya ingin berterima kasih sebab Anda telah begitu setia menemani saya belakangan ini. Saya gunakan kata ganti “Anda” agar sedikit lebih sopan sebelum akhirnya kita bisa saling akrab lalu Anda mengizinkan saya memanggil nama depan Anda. Saya berterima kasih untuk segala waktu luang yang Anda berikan kepada kepala saya sehingga saya bisa memikirkan banyak hal, termasuk ketuhanan dalam diri saya yang ternyata banyak terpengaruh oleh organisme-yang-bernalar yang saya sebutkan di atas.

Kemarin kalau Anda ingat, kita sedang membicarakan soal menjadi gila, kan? Anda mengiyakan pernyataan saya tentang hebatnya menjadi gila. Kalau Anda masih ingat, saya mengatakan bahwa orang gila tidak pernah membuat justifikasi apa pun kepada orang lain yang memberikan justifikasi kepadanya, yang seringnya tidak adil, mendiskriminasi, mengintimidasi, bahkan mendiskreditkan… hanya karena mereka gila.

Padahal menurut saya, kehidupan mereka begitu luar biasa tanpa harus terpengaruh oleh orang lain, oleh gaya yang sedang hitz, oleh komunitas menggosipkan orang, oleh ucapan provokasi yang bertujuan menghacurkan, dan lain-lain yang tidak begitu penting dibicarakan, namun menjadi amat pokok, seperti kebutuhan primer. Bukankah benar argumenku ini? Bahwa kehidupan mereka menjadi jauh lebih luar biasa dari kehidupan orang yang tidak mau dibilang gila hanya karena mereka bernalar?

Bernalar yang seperti apa? Menganalisis keburukan orang setiap hari? Mencari tahu kelemahan orang untuk dijadikan topik obrolan bersama kawanannya? Menyebar kebencian kepada orang lain hanya karena dia membenci orang itu? Sungguh kurang kerjaan, menurut saya, meski terkadang – oh tidak, sering – saya ikut andil dalam kegiatan kurang kerjaan seperti itu. Entah apa tujuannya, saya kira mungkin karena setiap orang akan merasa lebih baik jika dia lebih baik dari orang yang dia diskreditkan. Menurut Anda bagaimana?

Oh iya, sudah saya katakan belum soal Anda dapat mematahkan setiap argumen saya di atas itu? Kadang saya bisa begitu sok tahu, lho. Maka, saya selalu butuh sanggahan Anda, sekiranya saya keliru dalam memberikan penilaian. Menurut Anda, apakah saya keliru?

Setiap harinya, saya melihat banyak sekali argumen – yang entah melalui proses bernalar terlebih dahulu atau tidak – mengenai sesuatu atau seseorang, Anda pasti ingat beberapa hari lalu saya memberi gagasan pada dunia bahwa kehidupan sosial bukanlah mesin penampil tulisan di mana kolom komentar dapat disembunyikan sehingga sekiranya timbul komentar buruk, kita bisa langsung menghapusnya. Tidakkah begitu? Anda setiap harinya melakukan sesuatu, dan di sekitar Anda, ada dua tipe orang-orang yang bisa kita kelompokkan menjadi Kelompok Suka dan Kelompok Tidak Suka. Kelompok Suka tidak perlu kita bahas. Kelompok Tidak Suka, ia akan selalu memberikan komentar tentang diri Anda, dengan hanya melihat apa yang mereka lihat dan dari penglihatan mereka – kita tidak pernah tahu berapa minus mata mereka dan berapa lingkar kepala mereka – lalu mereka akan memberitahukannya pada dunia dan membuat kita jatuh di depan umum. Apakah itu baik?

Tapi kemudian Anda mengatakan pada saya setelahnya bahwa yang harus diwaspadai adalah kelompok yang suka tapi berkelakuan seperti kelompok yang tidak suka. Anda menyebutnya itu Kelompok Palsu, Kelompok Pura-pura, dan saya menyetujuinya.

Maka saya mendengarkan ocehan Anda mengenai betapa setujunya Anda dengan gagasan saya bahwa menjadi gila adalah sebaik-baiknya peran yang harus dilakonkan dalam kehidupan sosial yang busuk konstruksinya ini. Oh saya begitu kagum dengan kepala Anda, bagaimana Anda memberikan saya pemahaman tentang mencari tahu adalah baik selama kita bisa adil dengan jawaban yang kita dapat. Seandainya Anda bisa memberitahu organisme-yang-bernalar yang saya sebutkan di atas, mereka pasti akan menjadi lebih bijak, atau minimal mencari pekerjaan biar tidak bergunjing atas apa-apa yang tidak sesuai dengan lingkar kepala mereka.

Baiklah, saya kira saya menyukai Anda. Bisakah besok-besok kita berbincang kembali? Ada sebuah ketiadaan dalam kepala saya yang sepertinya harus meledak menjadi alam raya, dan tentunya membutuhkan Anda untuk mengurainya. Satu lagi, mungkin ini surat cinta, mungkin juga tidak. Tapi, saya benar soal pernyataan saya sebelumnya bahwa saya menyukai Anda, terlebih isi kepala Anda yang begitu luas.

Omong-omong kalau nanti kita semakin akrab, saya ingin menghadiahi Anda panggilan khusus. Katakan jika saat itu telah tiba, ya.

Iklan

Di St. Fransiskus

Tag

Hai, Al, apa kabarmu (lagi)?

Maaf aku absen mengirimimu surat, Al. Well, mungkin kamu tidak akan heran jika kuberi tahu alasannya karena seringkali aku mengalami ini. Tahun ini, sih, kali kedua. Ya, Al, kondisiku memburuk lagi. Penyakitku ini membuatku mendapatkan serangan sewaktu-waktu, terlebih sekarang musim hujan, Al. Hujan di cuaca, juga dalam diriku. Dingin, adalah salah satu faktor yang membuat serangan dapat mampir ke paru-paruku, Al. Memproduksi cairan pekat di sana, sehingga menghalangi oksigen yang harus kuhirup agar aku dapat tetap bernapas.

Maka Minggu malam aku dilarikan ke rumah sakit, Al, lagi dan lagi. Dalam catatan dokterku, itu adalah kali sepuluh aku ditangani oleh beliau. Dalam catatan ingatanku, rasanya sudah beratus kali. Pneumonia, Al, yang ada di dalam tubuhku ini membuatku menjadi sangat hapal terhadap bau rumah sakit. Membuatku kebal terhadap jarum suntik. Membuatku akrab dengan semua susternya.

Tapi, Al, sepuluh kali aku serangan berat hingga dibopong kembali ke sini, ke bangsal St. Fransiskus kelas 2 ruang 17 yang harusnya diisi 2 pasien namun hanya aku sendiri kali ini, semakin sepi sebab kamu tak ada, Al. Bahkan aku tak menulis untukmu, maka makin sepilah ruangan yang AC-nya kerap kuminta untuk dimatikan oleh suster.

Al, bukan aku tak ingin menulis surat untukmu, bukan. Tapi di sini, aku harus pintar-pintar mencuri waktu, meski sebagian besar waktuku kulakukan untuk tidur. Tapi, Al, itulah gunanya rumah sakit, mereka bilang; rumah untuk orang sakit, dan orang yang sakit harus banyak-banyak istirahat. Tapi aku berhasil menulis ini, Al. Aku patut berbangga, ya.

Al, aku ingin bercerita. Seperti dulu, seperti saat waktu masih memeluk kita. Kau selalu memintaku untuk bercerita, apa pun itu, karena katamu aku cerewet. Sedang aku, selalu memintamu bernyanyi, sebab merdunya suaramu, yang semua orang pun tahu.

Al, sekali waktu saat sebuah alat ditempelkan oleh dokter ke dadaku untuknya mengetahui seberapa kuat detak jantungku dan seberapa sakit yang kurasakan, aku selalu mengatakan tidak sakit. Bukan, bukan karena aku sok kuat, pun bukan karena aku berpura-pura sakit biar dikasihani, tapi… selalu lebih sakit saat aku hanya bisa menemuimu melalui ingatan yang tersisa, atau beberapa foto yang menyimpan kenangan kita dengan setimbunan ceritanya, atau melalui history-chat yang masih saja kusimpan. Selalu kusimpan.

Aku ingin kamu ada di sini, Al, meski tidak mungkin. Meski mustahil, seperti aku yang tidak ada di sisimu beberapa minggu lalu saat kamu sama terkaparnya sepertiku di sebuah bangsal yang dingin.

Aku merindukanmu, Lanang Asas Bumi. Aku sungguh merindukanmu dengan segala yang ada pada dirimu, yang sebagian besar kautransfer lalu mendarahdaging dalam diriku. Sehingga setiap kali aku melakukan sesuatu yang sering kaulakukan – atau kita lakukan – dadaku sesak, mataku banjir, lalu serangan itu datang.

Aku tahu, aku menyakiti diriku sendiri, Al. Atau tidak juga. Toh jika memang penyakitku kambuh karena saban detik aku menangis karena mengingatmu, bukankah seharusnya aku sudah mati, Al? Bukankah seharusnya aku sudah menyatu dengan cacing-cacing tanah di perut bumi itu?

Al, kamu ke mana? Aku merindukanmu. Berilah aku satu atau dua kata, atau sepidato. Agar aku tahu kabarmu, meski dari tempat yang jauh.

The Lullaby

Tag

, ,

“Barca kalah, ya, kabarnya? Hehehehe.”

“Diem.”

“Hahahaha ngambek. Badmood, nih?”

“Y!”

“Kan dibilang, harusnya kemarin kamu jemput aku di terminal. Ada soto mie enak, lho. Wuih nyesel kamu nggak ikut. Kamu kan suka banget soto mie, yah. Risolnya, tuh, lemak nian. Aku aja nambah.”

“Yeee si Pipi! Makin nyenyes be kau tu lamo-lamo.”

“Ya udah, jangan lama-lama betenya, Mi.”

“Mi?”

“Aku Pipi, kan? Berarti kamu Mimi.”

“Heis. Budak ni. Pipi itu karena kamu doyan banget makan. Lihat tuh pipimu, besaknyo. Hahaha. Oke, mulai sekarang kupanggil kau Pipi.”

oOo

Al, apa kabarmu? Entah kenapa, semakin jauh kita, semakin aku lihai memainkan masa lalu. Termasuk obrolan kita ini, Al. Salah satu dari sekian banyak cerita yang kita buat bersama. Aku ingat sekali bagaimana badmood-nya kamu seharian penuh karena tim kesayanganmu kalah – karena menurutmu, Barca adalah pemenang sejati. Sama sepertimu, Al, kamu pemenang. Sebab kamu telah memenangkan hatiku. Bukan, Al, ini bukan gombal.

Kemudian aku yang tidak sama sekali mengerti tentang bola kebingungan harus bagaimana terhadapmu, Al. Aku tidak pernah menonton pertandingan bola sekalipun, apalagi memiliki tim jagoan. Yang menurutmu itu kehidupan yang sangat membosankan.

Ya, Al, amat sangat membosankan. Sampai kau datang dan memberi banyak warna, menulis banyak cerita.

“Daripada bete, mending kita ke Venus aja, yuk? Tempat yang seperti emas. Indah banget tempatnya. Dijamin kamu suka. Di sana, Barcelona yang tadinya kalah bisa menang seketika. Swear! Terus kamu mau makan apa juga ada. Soto Mie Bogor? Telor dadar? Kentang goreng? Ada semua. Tinggal makan pula. Gratis sem…”

“BERISIK, NYENYES! KUCIUM JUGA, NIH!”

“O… Oke.”

“Oke apa? Cium? Aaakk! Sini.”

“Kanji.”

Kemudian, Al, kalau kau tak lupa kebiasaan kita, yang kerapkali bertukar rasa lewat lagu, dimulai sejak voice note pertama yang kamu kirimkan untukku, betapa takjubnya aku saat itu mendengar merdunya suaramu, maka kuandalkan itu, Al. Terlebih saat kau memujiku balik untuk suaraku yang kupahami sebetulnya tak bagus-bagus amat.

Saat itu masa-masa pemilihan umum, ya, Al. Kau yang bekerja di kecamatan otomatis sedikit lebih sibuk ( oh tidak, kamu jadi amat sangat sibuk) sehingga membutuhkan hiburan lebih. Iseng-iseng kurekam suaraku saat pukul 01:30 pagi kau mengabariku bahwa kau baru sampai rumah.

Ya, aku belum tidur saat itu, Al. Karena aku menunggu kabarmu.

“Maaf aku baru balas, ya. Aku baru sampe rumah aja, dong. Maaf juga seharian ini aku sibuk, Pi. Ke Venusnya abis aku selesai sibuk, ya. Nggak apa-apa, kan?”

Alih-alih membalas pesanmu, aku langsung merekam suaraku, meyanyikan sebuah lagu untukmu. Aku pun tak mengerti mengapa aku menyanyikan itu. Tapi, aku memang pernah bermimpi menyanyikan lullaby untuk seseorang ketika larut tiba. Dan saat itu, kaulah orang yang kupilih, Al.

Missing your face and your touch
Missing your kiss and your love
Missing every little bit and a piece of you
Baby would you meet me halfway cos I’m down for you
O… the many things that I would do
Just to feel you, hold you
Man it’s so hard not to have you here

You’re probably sitting, like me
Missing you baby ooo
Promise to listen before you sleep

Cause when I’m staring at the stars
Looking at the moon wishing that I
Could be there with you
It’s okay, and it’s alright
Baby listen to this lullaby
Good night, sleep tight
Dream away with me tonight

Yeah we could sit on the phone
Bust an all-nighter til the early morning
It’s still not the same when you’re far away
Hearing your voice, I got no choice
It’s the only way for me to feel closer
I guess til then, just listen

Wherever you are
No matter how far
Just listen for me
I’ll sing you to sleep
I love you, goodnight
Dream away with me tonight

Aku senang saat kau memujiku betapa bagus suaraku menyanyikan lagu ini, Al. Lullaby yang dinyanyikan Lateeya ini, menurutmu lebih bagus saat aku yang menyanyikannya. Kalau kau mau tahu, Al, aku menyanyikan versi Aisyah Aziz, seleb-soundcloud, katanya. Lalu kau mendengarkannya, kaubilang, tetap lebih bagus versiku.

“Pi, capekku hilang, Pi. Aaaakk Pipi, nyanyi lagi, dong!” Responmu saat itu yang langsung meneleponku begitu selesai mendengarkan senandungku itu. Aku bahagia sekali, Al. Amat sangat.

Al, belakangan aku sering sekali memutar lagu ini. Terlebih semenjak kejadian malam natal yang membawa Arum padaku. Aku merindukanmu, Al. Pipi merindukan Mimi.

NYEBELIN

Tag

, ,

Bandara Halim Perdana Kusumah

17 Desember 2014

19.30

Setengah jam lagi sebelum pertemuan pertama kita, Al. Aku gelisah sembari menghitung bulan-bulan yang kita lalui sebelumnya, bagaimana perkenalan tanpa tatap muka kita lakukan, bagaimana jantungku tak hentinya berdesir menunggu benda persegi panjang itu menderingkan suara, bagaimana perjalanan kita yang seperti setrikaan mengalur sampai akhirnya sebuah tatap muka akan dihadiahkan kepada kita.

Gelisah ini muara dari segala macam pikiran, Al. Mulai dari; bagaimakah kau akan melihatku?; bagaimanakah kita akan memulai percakapan?; bagaimanakah aku harus bersikap?; samakah aku dalam huruf dengan aku dalam nyata bagimu?; apakah aku cukup cantik untuk membuatmu berkesan pada pertemuan pertama ini?; dan jutaan isi kepala lainnya, Al. Yang akan panjang sekali jika kujabarkan.

Tahukah yang paling membuatku gelisah, Al? Tak lain adalah pertengkaran kita atas kekanakanku yang membuat kita sempat saling bisu. Lalu setelahnya kita harus saling bertemu. Aku bingung, Al, peran apa yang harus kumainkan? Pura-pura tersenyum lebar sambil menyapamu dengan sok asik, atau mempekerjai nyenyesku yang selalu kau suka itu? Bagaimana, Al?

Bokongku seperti terserang bisul, Al. Atau ambeien, entahlah. Teman-teman kita yang juga ikut menjemputmu mungkin keheranan melihatku yang sebentar-sebentar duduk, lalu berdiri, lalu duduk lagi, lalu berdiri, lalu menabrak para penumpang yang baru sampai, atau tersangkut troli barang, atau terjebak dalam kebingunganku sendiri. Aku mengalami palpitasi, Al. Istilah yang pasti belum pernah kaudengar karena kamu tidak hobi membaca.

Palpitasi, Al, adalah istilah untuk jantung berdebar tak menentu. Sebetulnya ini menyangkut kesehatan, Al, yang penyebabnya macam-macam. Untukku, mungkin kau ingat bahwa aku penderita pneumonia yang memiliki masalah terhadap paru-paru, yang erat pula kaitannya dengan jantung, Al. Biasanya saat aku sesak napas lalu kehabisan obat atau inhaler, aku mengalami palpitasi. Atau kepalaku dihampiri firasat buruk. Atau saat aku ketakutan. Atau saat aku emosi. Atau… banyak hal, Al.

Al, aku semakin tidak bisa mengontrol diriku. Lututku semakin lemas. Berkali-kali kulirik jam di lengan kiriku. Saat ini jarum pendeknya mengarah ke angka 8, dan jarum panjangnya menunjuk angka 11. Semakin banyak pula orang-orang berlalulalang, Al. Tak lupa troli barang mereka genggam. Beberapa di antara mereka seperti mau pindahan. Tidak penting bagimu, ya. Tapi ini membantuku menghapuskan gelisahku.

Aku berdiri lagi dari posisi dudukku, Al. Teman-teman kita sepertinya sudah mulai menerima sikapku. Atau mereka sebetulnya tidak peduli. Aku pun tak peduli, Al. Aku beranjak, berjalan entah ke mana, mengikuti langkah kaki saja, yang malah membawaku ke pintu kedatangan, Al. Lalu seorang anak kecil yang memang sejak kami sampai di bandara sedang rusuh berlari-lari di lobby – padahal security sudah berkali-kali menegurnya – menubrukku sampai aku jatuh. Bayangkan, seorang anak kecil yang tingginya hanya setengah kaki mampu membuatku jatuh. Aku sebegininya gugup, Al. Papan keterangan “KEDATANGAN/DEPARTURES” di depanku pun mendadak buram, padahal kacamataku baru saja kuganti.

“Masih aja ceroboh. Hih!”

Sebuah uluran tangan bertamu di depanku yang sedang sibuk membetulkan kacamataku yang terlepas seraya suara bariton yang sempat kukenal, masih kukenal, selalu kukenal.

Kutengadahkan kepalaku, lalu kulihat dirimu, Al. Memakai kaos hitam dengan denim vest warna biru, beanie hat hitam di kepala, converse hitam kesayanganmu, dan carrier besar di tubuhmu. Uluran tangan itu, Al, sempat membuatku ragu untuk menangkapnya. Sampai kusadari bahwa bandara semakin riuh dengan penumpang yang baru saja datang, yang kukira mereka teman seperjalananmu. Troli-troli semakin penuh. Dan bau pempek menguar, menyengat, semakin banyak.

“H… Hai! Eh, mana pempeknya? Siniin, aku lapar!” Ini di luar skenarioku, Al. Tidak sesuai script. Dalam bayanganku, aku akan menjadi perempuan grogi paling cool sedunia yang dengan anggunnya duduk di kursi lobby lalu dari arah berlawanan, kamu menghampiriku sambil melambaikan tangan. Dan kita akan saling menyapa. Berbasa-basi sederhana. Al, apakah aku sama seperti bayanganmu?

“Yeee nyenyes! Bukannya peluk, langsung minta pempek. Aku nggak beli, dan buruan bangun. Enak emangnya duduk di lantai begitu?”

“Dasar PHP! Kau tu lah janji nak belike aku pempek men ke sini. Mano? Sinike pempeknyo![3]

Meh! Lah biso Plembangan caknyo Siapo yang ngajari?[4]

“Kamulah! Lupa? Dasar nyebelin!”

“Lupa? Di Palembang, nyebelin itu ngangenin.”

oOo

N: Nah, kapan untuk bisa bicara bertatap mata berdua?

Y: Ya, inginkan itu.

E: Eiya, sebelumnya terima kasih atas semuanya.

B: Buat kamu, dunia yang kamu kenalkan.

E: Eee… Kan udah di atas.

L: Lambat laun kita pasti berjumpa.

I: Izinkan aku untuk bercerita, untuk melampiaskan bahagiaku mengenalmu selama ini.

N: Niat di hati sudah ada. Semoga terkabul.

Ingat ini, Al? Saking seringnya aku mengataimu bahwa kamu adalah orang paling nyebelin sedunia, kamu menciptakan “nyebelin” itu sendiri untukku, untuk kita. Al, 6 poin sudah terlaksana, ya? Sisa 2 lagi. Kapan kita akan mewujudkannya? Benarkah sebahagia itu kau mengenalku?

Omong-omong, ini suratku yang keberapa, ya, Al? Katakan kalau kau mulai bosan membaca sejarah yang kuketikkan ini, ya. Biar aku tak perlu mengirimkan surat-surat ini lagi.

[3] Bahasa Palembang, artinya “Kamu tuh sudah janji mau belikan aku pempek kalau ke sini. Mana? Kesinikan pempeknya!”

[4] Bahasa Palembang, artinya “Wah! Sudah bisa Bahasa Palembang kayaknya. Siapa yang ngajarin?”

Bakal Gravitasi

Tag

,

“Aku kesasar. Salah naik angkot. Dan ini, ya ampun aku di mana. Aku pasti di luar angkasa. Ini sepi banget. Hanya debu-debu di sekitarku. Ini pasti serbuk asteroid yang bergesekan dengan meteor lalu jatuh menyatu dengan tanah. Aku di mana? Jemput aku, Bumi. Aaaaakkk!”

“Em… Nyenyes.”

“Tapi suka, kan? Nyenyesku itu candumu. Kayak capermu, konsumsiku. Weeeek!”

Meh! Udah mulai pinter. Mulai luluh nih ceritanya?”

oOo

Aku turun dari angkot ketika angkot itu berhenti di sebuah terminal yang setelah aku perhatikan, aku sama sekali tidak mengenalnya. Kutengok sekitarku, membuat gerakan memutar, kupelototi beberapa tempat, mungkin sekiranya aku kenal atau pernah kemari, ternyata tidak.

Kudata angkot-angkot yang sedang terparkir rapi, melihat keterangan trayek mereka di kaca belakang, tidak ada yang familiar di kepalaku. Terminal ini penuh sekali, Al. Selain angkutan kota, ada bis kota yang besar-besar juga, berjejeran rapi dan banyak sekali, sehingga membuatku kesulitan mencari tahu nama terminal ini.

Siang ini neraka seperti membuat cabang, Al. Panas sekali. Kukelilingi terminal yang besar ini, Al. Mencari tempat persinggahan – untuk membeli minuman, atau makan, mungkin – yang sekiranya aman untuk perempuan ceroboh sepertiku.

Sulit sekali, Al. Bukan karena tidak ada warung makan. Terlebih karena pengunjungnya, yang sembarangan kutebak, mereka adalah para supir angkot dan bis dengan penampilan menyeramkan membuatku urung singgah. Sampai akhirnya aku menemukan minimarket dengan fasilitas tempat duduk lengkap dengan meja dan saklar. By the way, di kotamu adakah minimarket seperti ini? Oke, aku meledek.

Setelah membeli beberapa makanan untuk mengganjal perut, aku meraih ponselku yang sejak di dalam angkot tadi kuendapkan jauh di dalam tas. Lagi-lagi, Al, aku dibuatmu bahagia dengan rentetan pesan singkat yang setia kaulayangkan tanpa kuminta.

“Kamu kesasar di mana, Em? Kok bisa? Emang nggak liat-liat dulu? Dih kamu ini gimana? Tapi biasanya perempuan kalau kesusahan bakal mengeluh, kan? Oke, aku senang kamu kesasar. Dengan begitu kamu akan mengeluh ke aku. Karena keluhanmu adalah tanggung jawabku. Lalu akan akan menolongmu, maka aku akan menjadi pahlawan.”

Aku tertawa, Al. Padahal tadinya aku amat takut. Takut sekali. Entah bagaimana bisa, hanya beberapa kalimat sok pahlawanmu itu mampu membuat cuaca dalam diriku berubah. Menurut info dari struk belanjaanku, Al, aku sedang berada di Jakarta Barat. Dan rumahku di Bekasi. Al, Jelambar ini baru pertama kali kudengar.

“Jauh banget, bro. Ini di pelosok Jakarta. Jemput aku dong, bro. Muka orang-orang sini nggak ada yang seimut aku. Menyeramkan semua. Aku takut diculik. Bumi, tolong aku!”

“Baiklah aku akan segera ke sana. Kamu tunggu di situ. Eh, tapi nggak jadi, deh. Nanti malam ada bola. Barcelona, cyin. Sekarang jam 2 siang. Perjalananku ke sana sekitar 2 jam (kamu bilang Jakarta super macet, kan?) Belum perjalanan balik. Champion mulai jam 7 malam. Aku bisa ketinggalan. Kamu pulang sendiri aja, yah. Hahaha!”

Berengsek! Kamu lebih dari nyenyes, Al. Kamu nyebelin! Ngeselin!  Tapi… menyenangkan. Al, apakah selera humorku semakin rendah? Mengapa aku tertawa untuk hal-hal remeh seperti ini?

“Oke! Dasar PHP! Kudoakan tim-mu kalah. HAHAHA!”

Al, apakah kamu nyata? Apakah benar kamu Bumi? Jika iya, mungkinkah aku Embun yang setiap pagi jatuh untuk kautangkap?

Al, takutku datang lagi!

What If?

Tag

, ,

Come on baby try harder

Come on baby light me fire

Come on baby be mine

Cause you’re the one I wanted to be

Kamu tahu, Al, aku tidak suka keramaian di luar kepala. Aku lebih suka menyemai keramaian dalam kepalaku sendiri. Memikirkan apa pun, menganalisisnya, mencari kesimpulan atasnya, entah apa tujuannya. Dan anehnya, bisa-bisanya aku menganalisis segala hal sambil memberi makan telinga. Aneh, karena kamu bukan tipe pemikir keras, menurutmu itu ribet dan menyusahkan diri sendiri. Aneh, karena, bagaimana bisa aku memasukkan dua hal yang berbeda dalam kepalaku, maksudmu adalah bagaimana aku bisa menikmati musik yang sedang kudengarkan sembari memikirkan mengapa bumi berputar.

Lalu, Al, telingaku saat ini terperanjat ketika playlist­ku ter-shuffle lagu yang pernah kamu berikan. Ya, aku semakin giat saja memberi makan telingaku dan menambah playlist di ponselku dengan lagu-lagu yang kerapkali kamu kirimkan untukku. Ingat “What If”-nya Mocca, Al?

oOo

“Besok perbaiki yang saya tandai ini, ya. Dan diperkuat lagi latar belakang permasalahanmu. Ini kurang kuat, lho. Apa alasan Pemda Bekasi mengubah kebijakan pemungutan pajak reklame? Kamu Cuma memaparkan karena kurangnya kesadaran para wajib pajak untuk membayar. Kalau hanya itu, aneh segala mengubah kebijak……”

Entah apa lagi yang sedang diocehkan lelaki paruh baya dengan kepala botak sebelah ini, Al. Rambutnya sudah putih semua. Kulitnya kendur di mana-mata. Dan matanya, ya, matanya tidak hitam lagi. Seperti mata lelah, Al. Tapi tak lelahnya beliau mempersulit karya ilmiahku sehingga menginjak semester 9 ini, aku masih saja stuck di Bab 1. Menurutmu bagaimana, Al?

Sudah dua jam aku duduk di ruangan yang pendinginnya dimatikan ini. Tidak kuat dingin, alasan pembimbingku mematikan AC di ruangannya. Padahal ruangan sempit ini berjejalan banyak sekali barang, Al. Kebanyakan trofi penghargaan yang pernah diraih pembimbingku. Beliau sudah mendapat gelar profesor, Al, seperti yang pernah kuceritakan padamu. Bahkan pada strata 1 saja beliau memiliki 3 gelar. Tidak heran, kan, mengapa skripsiku lambat begini. Beliau orang yang sangat detail dengan mata tuanya. Salah sehuruf saja, habis usahaku dicorat-coretnya.

“Embun? Kamu mendengarkan saya, tidak? Embun, lepas headset-nya! EMBUN!”

Aku terperanjat seraya bunyi gebrakan meja yang dihasilkan tangan keriput dosen pembimbingku itu, Al. Segera kulepaskan amunisi telingaku, sekaligus mengistirahatkan suaramu sebentar saja. Pastinya kau lelah, kan, kupaksa bernyanyi seharian penuh tanpa kubayar.

“I… iya, Pak. Maaf.”

“Kamu mau lulus, nggak? Seharusnya dari semester 7 lalu kamu sudah selesai. Kalau kamu nggak malas, dan mendengarkan apa yang saya katakan. Sekarang mau nambah semester lagi?”

“Ti… tidak, Pak.”

“Baiklah, ini semua poin-poin yang sudah saya catat tolong direvisi. Lusa kembalikan ke saya. Nggak ada alasan lagi. Paham?”

“Paham, Pak,” jawabku sambil tersentak ketika tak kusangka-sangka beliau akan melemparkan proposalku itu tempat di depan mataku.

Dengan gugup aku merapikan barang-barangku lalu pamit pulang. kutinggalkan ruangan mengerikan itu, Al, lalu kembali memaksamu bercerita lewat lagu-lagumu.

What if I give you my story?

Are you gonna listen to me?

What if I give you my heart?

Are we never gonna be apart?

Mengapa pada dua baris terakhir itu kamu membisu, Al? Mengapa tidak kaunyanyikan secara keseluruhan? Aku yakin bukan karena kamu kelelahan. Kamu lupa, Al? Aku pandai menganalisis. Memikirkan banyak hal adalah hobiku. Kamu seperti Bab 1-ku, Al. Yang menurut dosenku kurang kuat, kurang jelas. Bisahkah kamu merevisi lagu ini, Al? Mengisi kembali bagian yang kurang itu?

Kau tahu, Al, apa yang membuatku membuang fokusku dari dosen pembimbingku tadi? Itu karena kebiasaanku terlalu banyak memikirkan sesuatu, dalam hal ini ialah dua baris yang tak kaulafalkan dalam lagu yang kudengarkan berkali-kali itu.

What if I give you my heart, Al? Are we gonna be apart? Bagaimana, Al? Mengapa kau selalu diam di bagian ini? PR-ku bertambah satu, Al. Merevisi skripsiku, dan menunggu revisimu. Al, mengapa kau memberiku sebuah what if?

Apa yang tengah kausembunyikan, Al?

Hilir Terakhir

Tag

, ,

Salemba, 19:34

“Kita udah nggak punya aliran lagi, Em. Nggak sama sekali. Bukan tersumbat, tapi emang udah ketimbun sampah. Kita ini sampah, Em. Berbahagia dengan menghancurkan orang lain. Kita udah berakhir.”

Al, aku tak percaya sampai hati kau mengatakan itu semua padaku. Aku tak percaya sampai aku mendengarnya sendiri. Berhari-hari aku menunggu penjelasan darimu. Kusita segala kesibukanku hanya untuk mendapatkan sedikit penjelasan atas segala yang baru saja terjadi di antara kita. Al, benarkah kita tak lagi memiliki aliran? Mengapa harus dengan cara yang seperti ini, Al?

oOo

Langit soreku gelap sekali, Al. Sama seperti kepala dan hatiku. Aku urung pulang dari kantor sebab kuyakin sebentar lagi langit akan menangis, sedang aku tak bawa payung. Dan benar saja. Langit meruntuhkan airmatanya yang besar-besar. Maka aku memilih diam dan duduk saja memandangi kota yang terguyur hujan dari lantai 39, ruanganku. Sendiri.

Aku ingat beberapa masa lalu, Al, saat kau kebingungan tak mendapat kabarku. Saat itu aku sedang kehujanan di jalan sepulang dari kampus dan aku tidak membawa payung. Kau kelihatan cemas sekali, dari pesan teksmu yang sembarangan kuterjemahkan.

“Em, ke mana? Kok seharian nggak ada kabar? Biasanya nyenyes[2]. Masih di kampus? Pembimbingmu nakal lagi, yah? Kamu disandera (lagi)? Kamu ke mana, oy? Em?”

Kira-kira puluhan chatmu masuk ke ponselku tanpa kusadari yang begitu kubuka, sukses membuatku senyam-senyum sendiri, Al. Melupakan cemas karena hujan turun semakin deras, sedang rumah masih berkilometer jauhnya. Kau benar, Al, aku mulai candu. Aku mulai adiksi terhadap perhatianmu. Meski kita belum pernah sekalipun bertemu.

“Hujan, bro. Lupa bawa payung, dong. Deras banget. Bis juga nggak lewat-lewat, nih.” Balasku saat itu, masih dengan gengsi yang tinggi bahwa aku mulai luluh oleh perhatianmu.

“Em, sini kubilangin, kalau hujan itu neduh. Bukan umurnya lagi mandi hujan. Lain kali, kamu nggak usah bawa payung. Tunggu hujannya reda aja. Kalau hujannya nggak reda-reda, kamu telepon aku. Nanti aku jemput. Terus di perjalanan, ban mobilku pecah, terus kita terjebak di perjalanan. Waktu itu pukul 01:30 malam. Untungnya aku habis belanja di super market. Aku membeli makanan dan minuman yang untungnya kamu suka…”

Satu hal lainnya yang kusuka darimu, kamu senang sekali membuat khayalan-khayalan denganku, yang seringnya tak masuk akal, tapi selalu berhasil membuatku tertawa sampai terbahak. Sehingga tungguku soal hujan reda itu tak lagi terasa membosankan.

“Oke, besok-besok semoga hujan deras lagi. Kalaupun aku bawa payung, aku pura-pura nggak bawa aja, ya. Terus aku telepon kamu. Dalam waktu 5 menit, kamu harus ada di depanku. Deal?

“Yah kirain mau nerusin cerpenku tadi. “

“…”

Kamu orang pertama, Al, yang membuat alam bawah sadarku kembali aktif, yang tak pernah kusadari ternyata ia semenarik ini, menjadi anak kecil dalam tubuh dewasa, memikirkan segala hal yang tidak mungkin dan mungkin akan disepelekan. Membuatku lepas dari pikiran-pikiran membosankan dengan alam sadar yang selalu jadi pedoman utamaku, di mana hal-hal yang tak logis selalu kuanggap bodoh, dan hal-hal yang tak nyata, tak pernah kupercayai. Kamu membuat duniaku berwarna dengan pikiran-pikiran bocah 5 tahun untuk segala kreativitas yang tak terduga. Yang sederhana, namun membuat puas dan bahagia tak terkira.

Tapi… masa-masa itu sudah terlewat dan tak bisa terulang, ya, Al? Kamu bilang aliran kita sudah tiada. Lalu, saat langit sedang tersedu seperti ini, siapa lagi yang akan menemaniku menumpas bosan, Al? Siapa lagi yang akan mengajakku membuat khayalan-khayalan tentang segala hal, Al?

Sesuatu berbunyi tak jauh dari tempatku duduk. Sebuah E-Mail. Segera kuraih mouse komputerku, Al, lalu mengarahkannya pada sumber suara itu.

You’ve got mail!

Lanangbumi77@gmail.com

[2] Bahasa Palembang, artinya cerewet/ceriwis/resek.