My Dysfunction-Pituitary

Teruntuk Endorphinku..

Cho, ini hari entah yang keberapa. Aku sudah tak lagi mengingatnya, yang aku tau bahwa semuanya masih sama. Selalu ada yang ingin meledak di ulu hati setiap kali kurasakan keberadaanmu di sudut mimpi.
Cho, semuanya betul-betul masih sama. Semua perasaanku, tak ada yang berubah.
Aku masih selalu merindukanmu.
Rindu yang selalu semakin menjadi-jadi tiap kali kuhadapi nyatamu di depan batang hidungku.
Ingin sekali aku berlari, menjatuhkan diri di dekapmu yang sudah begitu lama tak pernah kukunjungi.
Setelahnya aku hanya ingin kau paham bahwa aku masih selalu mengganggapmu sebagai rumahku.
Taukah kau? Berpuluh-puluh hari ini aku tersesat. Linglungku, tak tau ke mana aku harus merebahkan segala risau yang acapkali menghabisi sisa-sisa kekuatanku.
Cho.. Malam ini, kembali aku hadapi rindu yang begitu keras kepala ingin menujumu. Mendesak, debar di dadaku begitu menyakitkan. Jantungku seperti ingin lepas..
Nyeri.
Nyeri.
Nyeri sekali.
Cho, aku ingin pulang. Tolong bukakan pintu barang sejenak. Aku begitu letih. Tolong biarkan kudiamkan segala rindu yang begitu ribut berseteru di kepalaku.
Setelahnya, kau boleh mengusirku pergi. Barangkali suatu saat nanti mungkin berganti kau yang akan merindukanku sesakit ini.

dari Va yang pernah kaukenal.

Akhir dari Tiada

Tag

,

“Hallo…”

“Ya, Em, ada apa?”

“Sibuk? Aku mau ngomong.”

“Nggak juga. Kenapa?”

“Aku minta maaf. Well akhirnya aku mengerti. Aku sadar, terlalu egois jika aku merasa bahwa akulah yang paling terluka, ditambah berpikir bahwa kamu bahagia-bahagia saja. Nyatanya, yang sedang kamu lakukan adalah berusaha tidak menambah luka itu, meski harus dengan cara yang membuatku benci kepadamu, meski harus kamu yang berdarah. Mungkin aku terluka, tapi dia pasti lebih terluka. Mungkin aku tak rela, tapi dia pasti lebih sulit melepaskanmu. Terima kasih dan maaf karena aku baru menyadarinya.”

“Em… Apaan, sih?”

oOo

27 Februari 2015

Menara Bidakara 1, lantai 17

Al, barangkali ini surat terakhirku untukmu. Atau nantinya akan ada surat-surat lainnya, aku tidak tahu. Belum kupikirkan, terlebih saat ini aku sedang sibuk-sibuknya di kantor baru.

Selama ini aku berpikir, Al, mengenai kita yang semakin berjarak saja. Aku tidak mengerti alasannya, meski sebetulnya, prasangkaku benar semua tentang masa depan kita yang tidak akan pernah berujung “kita”. Tidak mungkin kamu bertahan dengan dua perempuan sekaligus di kiri dan kananmu. Salah, jika kamu membagi perasaanmu dan mengkhianati seseorang yang menunggumu dengan setia. Jahat, jika kita tetap ada dengan membodohinya.

Meski alam bawah sadarku selalu bepikir bahwa aku yang paling terluka, tapi aku bersyukur masih mampu berpikir logis tentang keadaan kita yang memang tidak mungkin (kecuali jika Tuhan berkehendak lain, yang mana itu adalah doaku, agar kita selalu bersama entah bagaimana caranya).

Mungkin terlalu muluk jika aku berharap kita masih bisa seperti dulu, seperti selayaknya teman, meski kita berawal dari keterasingan. Meski muskil pula, sebab dia sudah mengetahui semuanya, akan sulit bagiku, terlebih bagimu. Aku minta maaf untuk semuanya. Meski aku masih amat membencimu karena dengan mudahnya kamu membuatku terluka, hancur tanpa mengembalikanku seperti semula.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi atau berharap bagaimana lagi untuk kita. Aku hanya berharap, semua ini segera kulupakan, sebab hampir setahun sejak kita pertama kali bertemu, aku sama sekali belum bisa melenyapkanmu. Aku hanya ingin segala tentang kita hilang, jika memang kita tidak bisa bersama. Sebab pada setiap munculmu, luka itu dengan mudahnya terbuka.

Sejak luka itu katoreh kembali, ketahuilah, sebetulnya aku tak pernah baik-baik saja, bahkan lebih hancur dari sebelumnya!

Aku hanya berpura-pura baik-baik saja, agar suasana di antara kita sama baiknya. Sayangnya, aku tidak pernah bisa menahan luka. Maka, menghilanglah saja dari kenyataanku, dari kepalaku, dan dari hatiku. Menghilanglah.

Semoga kita baik-baik saja. Semoga aku segera terbiasa dengan ketiadaan kita.

yang semakin sakit karena selalu jatuh pada Bumi,

Embun

Yang Tak Pernah Terduga

Tag

Dear, Al, beberapa hari ini aku sibuk sekali. Mulai dari tugas kantor, revisi skripsi, deadline proyek-proyekku, sampai segala tugas yang aku buat-buat sendiri demi mengenyahkanmu dari kepalaku. Banyak hal yang kujumpai selama aku menyibukkan diri, Al. Positifnya, aku sedikit terdistraksi. Negatifnya, hobi lamaku kuulang kembali, merokok, misalnya.

Aku sedang mengecek e-mail lama atas perintah bosku, Al. Beberapa dokumen hilang karena beberapa hal dan untungnya, aku menyimpannya di kotak surelku. Kubuka kotak masukku itu, Al. Kuarahan kursor terus ke bawah dengan pandangan yang jeli, sampai kursorku berhenti pada pesan yang pernah kamu kirimkan suatu malam saat aku lembur di kantor, yang tak sempat kubuka karena listrik mendadak padam, dan esoknya kulupakan sebab kesibukan-kesibukan yang kubuat-buat itu.

Kulupakan tugas dari bosku itu, Al. Segera kubuka pesanmu.

Palembang, 31 Januari  2015

Untuk Embun, yang membuat Bumiku terbelah.

Mungkin kamu akan sedikit kaget melihat surat ini, Em. Sebab ia datang beralamatkan kekasihmu, kekasihku, kekasih kita. Mungkin jantungmu memompa lebih laju saat membaca surat ini. Tapi kumohon, bacalah sampai akhir, Em. Banyak sekali hal yang akan kusampaikan dalam surat ini. Hal-hal yang tak pernah mampu bibirku katakan langsung kepadamu.

Mungkin akan sedikit menyakiti hatimu. Atau banyak. Mungkin akan melukai perasaanmu, pasti. Mungkin akan membuatmu merasa tidak adil, aku yakin. Tapi kumohon, bacalah, setidaknya sampai sebelum aku mengucapkan salam penutup.

Pertama, Embun, kau boleh jadi yang menyejukkan Bumi, yang diciptakan untuk menjatuhi Bumi, untuk menyejukkannya. Tapi, jangan lupakan aku, aku adalah pohon yang sejak lama ditahannya. Yang akarnya telah menjalar ke seluruh sisinya. Meskipun daun-daunku sudah banyak yang menguning dan jatuh, Em, ketahuilah, aku tak pernah mati, aku bertumbuh pada jatuhku.

Kedua, Embun, Bumi boleh jadi menjadi lebih segar setiap kali kau menjatuhkan tubuhmu padanya. Tapi kau lupa rindangku yang saban hari melindunginya dari matahari, tidak seperti kau yang datang hanya setiap pagi. Dan kau lupa lagi, Em, kau jatuh dari daun-daunku. Kau adalah tangisku.

Ketiga, Embun, sejujurnya aku telah mengetahui sejak lama hubunganmu dengan kekasihku itu. Aku tahu segalanya yang kau lakukan bersamanya. Aku tahu soal video stopmotion yang pernah kaubuatkan untuknya. Aku tahu soal video stopmotion yang dia berikan untukku (di mana video itu ia buat karena terinspirasi dari videomu untuknya). Aku tahu gelak tawanya saat bersamamu. Aku sadari murungnya saat bersamaku. Aku ingat ketika dia salah memanggil namaku. Aku membaca saat dia tergila-gila padamu. Aku pahami segala perubahannya yang fluktuatif padaku, di mana sumbernya adalah dirimu.

Keempat, Embun, kau boleh jadi memiliki semesta keterkaitan dengan kekasihku itu tanpa harus merakit waktu selama 7 tahun lamanya sepertiku. Tapi ketahuilah, sebelum ia menjadi seseorang yang akhirnya kaucintai sebegitunya, ia pernah menjadi seseorang yang bisa saja kaubenci sampai kau tidak ingin mengenalnya lagi. Lalu, saat itu, siapa yang bersamanya, Em? Kamu?

Kelima, mungkin ini akan terasa tak adil bagimu, tapi, cintaku padanya lebih besar daripada yang kaumiliki. Aku tak akan melepaskannya. Sampai kapan pun kau menunggu, aku tak akan pernah membiarkannya menjauh lagi dariku. Lepaskanlah ia, Em, tidak adil bagimu, seberapa dibanding aku? Tidak relanya dirimu, berapa banyak dibanding milikku? Mengertilah, Em, dia masih milikku, bahkan saat kalian memulai hubungan itu. Dia tak pernah melepaskanku, meski dengan apik menyembunyikanku. Pahamilah, hampir separuh hidupku, kuhabiskan bersamanya. Meski tawa, canda, dan segala yang kaubuat untuknya, menghasilkan lebih banyak bahagia di dadanya, kami memiliki bahagia yang lebih dulu kami rajut, 6 tahun sebelum ia menghampirimu.

Kuharap kamu mengerti. Bisakah kau membayangkan jika posisimu adalah diriku? Maka pahamilah, Embun Bening, yang membuat Bumiku sempat terbelah.

Yang pernah rela membagi Bumi,

Arum

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi, Al, termasuk dalam kata-kata. Maaf tak kuteruskan surat ini.

Cerita dari Lantai 17

Tag

, ,

Menara Bidakara 1, Lt. 17, Jakarta Selatan

13.28

Siang, Al.

By the way, surat ini kuketik melalui PC di kantor baruku. Perdana, lho. Aku menulis ini dalam keriuhan obrolan seputar istilah yang belakangan sedang menjadi trend di kalangan anak muda. Pasti kau sering mendengarnya. Ya, “baper”, tahu, ‘kan?

Oh iya, kau tahu? Akhirnya aku merasakan apa yang sering kaukeluhkan. Aku diterima sebagai Staff Administrasi di kantor baru ini. Kalau beberapa minggu lalu aku mengeluh mengenai betapa tidak enaknya pekerjaanku karena aku tidak melakukan pekerjaan apa pun, kali ini berbeda sebab aku justru semakin banyak pekerjaan, sama sepertimu. Bedanya, jam kerjaku tepat waktu, 8 jam per hari dengan gaji yang tentunya melebihimu. Tapi dengan hari kerja yang sama, ya enam hari dalam seminggu.

Aku ingin bercerita sedikit. Jadi saat rapat laporan tadi pagi, salah seorang user di kantorku melaporkan keluhan pelanggan yang menurutnya, beliau memaparkan dengan dramatis bahkan sempat menangis perihal barang pesanannya yang belum juga beliau terima. Sayangnya, hal tersebut kadang menjadi bahan ledekan di kantorku, terlebih saat userku nyeletuk “baper banget, astaga!” setelah memberikan laporan sehingga membuat ruang meeting menjadi penuh dengan bahak.

Aku sedikit bingung, tapi tak mampu menahan tawa juga. Kebetulan atasanku bukan orang Indonesia, sehingga di antara gelak kami, beliau tidak ikut tertawa sebab tidak mengerti arti istilah yang sedang hitz itu dan mengundang salah satu rekan kantorku untuk menjelaskan apa makna dari istilah yang sedang menjadi tema utama kantorku.

Aku jadi berpikir… Al, Tuhan menciptakan kita dengan 5 indera untuk merasa, kan? Seperti yang pernah kutulis untukmu, kelima indera ini yang membuat kita merasakan banyak hal, terutama hal fisik. Belum lagi ditambah hati, yang membuat kita merasakan hal-hal yang tidak nyata, yang tidak terlihat secara fisik, seperti aku padamu. Bukankah akan wajar jika seseorang akan “baper” untuk hal-hal tertentu? Terlebih kalau ternyata orang tersebut lebih memungsikan inderanya tinimbang akalnya, meski kita sudah sepakat bahwa antara akal dan indera harus seimbang, kan.

Kadang aku heran, Al, kita mudah sekali terjebak dalam arus, terlebih untuk sesuatu yang negatif, namun tidak pernah suka jika sesuatu yang negatif itu menimpa kita. Belum lagi jika hal tersebut sebetulnya adalah sesuatu yang wajar dan dapat terjadi pada semua orang (seperti yang kerap kujelaskan mengenai indera dan akal), bahkan bukan suatu keanehan. Tapi aku ingat, Al, tidak semua kita seperti itu. Mungkin hanya aku yang mudah terpengaruh atmosfer, atau beberapa temanku yang lain, yang jelas tidak semua kita. Sebab, kamu tidak seperti itu. Aku ingat sekali bagaimana kamu pernah membuatku terdistraksi dari segala fenomena arus yang sama dengan segala kegaringanmu yang ringan, namun mampu membuatku tertawa sehingga melupakan kegiatan mencemooh atau bergosip seperti itu.

Ya, aku tahu bukan lagi saatnya untuk kembali mengingat hal-hal di masa lalu sebab kita sudah lama mati, kan. Tapi, dari segala pesakitan yang kamu torehkan di dadaku, aku harus berterima kasih untuk beberapa pelajaran ini, yang kamu berikan padaku tanpa harus menggurui, bahkan dengan cara yang tidak kusadari bahwa ini adalah sebuah pelajaran.

Satu lagi, kalau aku baper padamu, mohon dimaklumi, ya. Kan kau sendiri tahu bagaimana kita sebelum dua bulan terakhir ini.  But wait! Perlu kamu ketahui sedikit lagi… bahwa menurut kamusku, baper itu bukan bawa perasaan, tapi… bawaannya laper. Hehehe aku masih si tukang makan yang badannya tak pernah gemuk kecuali pipinya itu lho, Al. Yaa, tidak penting, sih. Tapi semoga kau akan terus mengingatku, meski sebagai perempuan yang makannya banyak sekali. Oh iya, kapan-kapan kalau beku bukan lagi suasana kita, akan kukirimkan padamu pemandangan dari ruanganku ini, yah. Jakarta kalau malam indah sekali, lho.

Semoga kau baik-baik saja dan semakin bahagia, ya.

Yang masih setia jatuh pada Bumi,

Embun

Surat Balas Jasa

Tag

,

Untuk uda

Hai, uda, sesuai janji, aku tulis surat ini buat uda, walau aku nggak tahu harus menulis apa.

Tapi, setelah aku ingat-ingat jasa uda, aku mau berterima kasih karena uda sudah sudi menjadi tempat aku berbagi pasca bala bencana beberapa minggu lalu menimpaku. Serius, aku jarang kan sok romantis begini ke uda. Karena aku merasa nggak perlu pakai topeng apa pun ke kamu, sekalipun bersikap romantis. Romantis… kalau tadinya kamu pikir itu nama tengahku, kamu salah. Aku bukan si pemuisi yang kamu bilang jago, bukan si sajakers yang kamu bilang lihai.

Btw, kamu kapan pulang? Pulang ke Jakarta. Mentawai segitu nyamannya, yah? Oh iya, kadang-kadang aku kepengin meneleponmu juga, jadi nggak harus kamu yang selalu meneleponku sampai pulsamu habis. Tapi aku suka gengsian, dan takut ganggu waktu kerjamu.

Uda, kamu tahu ‘kan perihal ceritaku tentang pelukan terakhir di bandara Halim itu? Karena uda, aku jadi lebih kuat dan nggak terlalu memikirkan itu. Lumayanlah, aku bisa tertawa lepas setiap kita bertukar suara tiap malam pas kamu lowong. Meski harus membentuk kantung mata, tapi aku nggak merasa rugi karena aku bisa tertawa lagi, dan… setidaknya kantung mata itu bukan berasal dari tangisan lagi.

See? Aku tuh nggak romantis, uda. Lihat aja surat ini, datar sedatar-datarnya. Tapi aku yakin kamu pasti melihat diriku yang sebenarnya di surat ini, yang tanpa topeng apa pun, tanpa diksi dewa yang maknanya harus merogoh kamus terlebih dahulu. Jangan tertawa ya begitu baca surat ini. Jangan bandingkan surat ini dengan sajak-sajak yang pernah aku buat. Bukan berarti sajak-sajakku itu palsu, tapi, untuk berbicara soal kejujuran dan sebuah ucapan terima kasih, akan lebih tulus kalau segalanya yang terangkai menjadi apa adanya tanpa harus memaksa seragam dalam rima. Karena kamu sudah membuatku tertawa, sebaiknya bahagia itu tidak perlu disembunyikan dalam majas-majas yang dapat membuat artinya bias, kan?

Sudah, segini aja, ya. Pokoknya terima kasih dan jangan galau lagi. Kalau kamu masih galau, nanti aku nggak bisa ketawa lagi. Jangan lupa juga, kamu masih punya utang soal mentok-mentokan sama aku. Hahahaha!

Sampai bertemu lagi, Uda. I miss you!

Salam,

Nona berhidung tipis.

Even The Wisest Men was a Fool for Love

Tag

, ,

Hai, Al, ketemu lagi kita.

Al, mungkin kau mulai terbiasa kukirimi surat. Dan mulai terbiasa menemuiku melalui kata-kata. Sayangnya, aku mulai bingung memilih kata pembuka yang pas, maka kali ini aku absen membubuhkan kalimat pembuka itu.

Kamu tahu, kan, aku bukan penggila film. Kamu tahu aku tidak akan mengantri berjam-jam di loket pembelian tiket hanya untuk menonton sebuah film yang baru tayang, serempak, box office, dan telah ditunggu sejak lama oleh para penggandrungnya. Aku hanya akan menonton film ketika aku mau, ketika sesuai apa yang kurasakan, selebihnya ketika aku kurang kerjaan.

Kali ini aku sedang kurang kerjaan sebab aku baru saja mengundurkan diri dari pekerjaanku untuk fokus pada tugas akhirku, Al, maka aku kehilangan beberapa kegiatan dan itu sangat membosankan. Untuk mengisi waktu, kuluangkan hari untuk membeli kaset DVD lalu movie-marathon sehari penuh di kamar. Dari 5 film yang kutonton, ada satu film yang menarik perhatianku hanya dari tagline-nya, ya, hanya dari tagline-nya.

even the wisest men was a fool for love.”

Aku bahkan belum menonton filmnya, Al. Dari sinopsisnya, aku tidak begitu tertarik. Aku hanya tertarik pada tagline­-nya, ya, hanya itu.

Kemudian itu membawaku pada buku yang pernah kubaca saat aku berada di tingkat pertama kuliah, sekitar 4 tahun lalu. Seseorang yang pernah kukenal meminjamkanku buku itu, The Art of Loving judulnya. Karya seorang Psikoanalis Erich Fromm.

Aku jadi bertanya-tanya, Al, bagaimanakah kisah percintaan beliau sehingga beliau bisa menjadi peletak dasar teori cinta, apakah beliau pernah mengalami hal-hal menyedihkan dalam cinta, bagaimana beliau menghadapinya, juga hal yang sama seperti Aristoteles atau Plato yang banyak menyumbang teori tentang alam raya. Apakah mereka pernah mengalami yang Alan Powell alami, yaitu was fool for love even they’re the wisest?

Al, mengapa aku sangat ingin tahu jawabannya? Karena aku mengalami fool itu, padamu. Maka kubaca kembali buku itu, yang empat tahun lalu pernah seseorang jejalkan padaku, saat aku belum bisa menangkap banyak makna.

Al, kita adalah apa yang kita tuju dalam hidup. Apa tujuan kita, itu menggambarkan diri kita. Manusia adalah alat untuk manusia lain mencapai tujuannya. Banyak sekali, Al, tujuan dalam hidup; menjadi kaya, berkuasa, menjadi pemimpin, memiliki jabatan di perusahaan, dan muara dari semua itu adalah agar dicintai. Ya, dicintai ialah tujuan seseorang dalam hidupnya. Kebanyakan orang begitu, Al, karena mana ada yang bisa hidup dalam kesepian? Sebab dicintai, katanya membuat kita merasa tenang, lengkap, sempurna, dan yang terpenting tidak merasa sendiri.

Tapi, Al, jalan untuk dicintai bukan dengan mencintai. Mencintai tidak serendah itu, seharusnya. Tidak heran banyak orang mudah patah hatinya sebab tujuannya mencintai adalah untuk dicintai, aku salah satunya, padamu. Sebab cinta ialah penyumbang paling besar perubahan emosi seseorang, maka jika tujuan mencintai hanya untuk dicintai, ita tidak akan pernah belajar mengenai ketulusan, apa adanya, dan bersyukur untuk segala hal, salah satunya mensyukuri kelebihan berupa perasaan untuk merasakan cinta itu sendiri.

Maka aku paham, Al, bahwa seseorang sebenarnya tidak pernah benar-benar mencintai jika dengan mencintai, tujuannya adalah agar dicintai. Orang-orang yang tujuan hidupnya untuk dicintai sesungguhnya adalah orang yang egois, yang hanya memikirkan dirinya sendiri, serta orang-orang yang terjebak dalam konsepsi cinta palsu, di mana pemahamannya tentang cinta terbatas pada kontruksi sosial yang berkembang di lingkungannya, dan itu sangat menyedihkan, Al. Artinya, dia tidak mengetahui apa pun tentang cinta, bahkan tentang segala hal karena yang ia ketahui hanyalah bagaimana cara untuk memuaskan dirinya sendiri.

Al, bagaimana denganmu? Apa tujuan hidupmu? Mungkin kita bisa berbincang kembali untuk menemukan satu gagasan, entah tentang cinta, tentang jagad raya, atau mungkin tentang kita.

Fifty:Fifty

Tag

, ,

Jatibening, 17 Februari 2014

Kepada Alien dari Kesadaran

Selamat siang, Alien. Apa kabarmu? Kali ini aku menuliskan surat ini bukan atas gagasanku sendiri, melainkan sebagai perantara dari Kesadaran.

Selain berbicara dengan Kesepian, aku juga berbincang mengenai banyak hal dengan Kesadaran. Banyak sekali yang ia tuturkan padaku, dan aku amat takjub sekali dengan pemaparannya. Sempat tidak mengerti di beberapa bagian, namun sekeras mungkin kuusahakan agar lingkar otakku semakin besar sehingga aku bisa mencerna setiap kalimatnya.

Jika hanya Tuhan yang ‘selalu ada’, maka selainNya ialah sesuatu yang tidak selalu ada, yang mana berarti mereka ada karena proses penciptaan. Dan setiap yang ada, pastinya akan menjadi tiada melalui proses pembaharuan, penyusutan, bahkan pengikisan. Jika cinta bukanlah Tuhan, maka ia sudah pasti ada karena diadakan, yang berarti ia pernah tiada dan akan kembali tiada. Jika kita bukanlah Tuhan, maka nasib kita adalah sama seperti cinta, di mana awal dan akhirnya adalah tiada. Maka, mengapa begitu takut pada kehilangan sedangkan setiap kita pasti akan lebur dalam kehilangan itu?”

Pada awalnya aku sendiri tidak mengerti dengan apa yang Kesadaran sampaikan padaku itu, Al, sama sekali tidak mengerti. Sampai kubuka-buka dokumen lama mengenai  kehadiran jagat raya, asal-usul dunia tempat kita bernaung sekarang, yang malah membelit kepalaku dengan banyak gagasan. Namun, pada akhirnya aku memahami bahwa takut akan ketiadaan ialah bukti bahwa kita mencintai dengan terlalu dan tidak berani menghadapi perubahan padahal Heraclitus dari Ephesus  bilang bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan; jika tidak pernah sakit, kita tidak pernah tahu apa rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan pernah merasakan senangnya menjadi kenyang.

Nah, Al, kini aku mengerti mengapa Kesadaran begitu gencar menghampiriku sekalipun aku pernah begitu kuat menutup pintu untuknya dengan bersikukuh tetap mengenang segala tentang kita yang pernah tertulis meski tak perlu.

Segala sesuatu yang ada dunia ini akan mengalami perubahan, katanya. Awal dan akhir adalah ketiadaan. Ada indera-indera yang  membuat kita dapat merasakan perubahan tersebut, di mana itu disebut perasaan. Namun apakah aku akan bergantung 100% pada perasaan, tanyanya saat itu, aku rasa kini aku tahu jawabannya. Indera-indera kita kadang tidak memberikan gambaran yang begitu tepat tentang sesuatu karena seringkali lebih mengandalkan perasaan, Al. Maka aku akan mencoba menyeimbangkan dengan akal yang diadakan dalam diriku, agar nantinya, mencintai itu tidak menjadi terlalu. Toh, segala sesuatu yang tidak selalu ada akan tiada, kan?

Al, apakah kamu mengerti dengan penjelasanku? Kalau belum, biar kuhubungi Kesadaran untuk menjelaskannya ulang kepadamu.

Semoga kamu baik-baik saja.